Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. Klien pertama

Klien pertama

Cara Dapat Klien Pertama Jasa Website. Masalahnya Bukan Portofolio yang Kosong.

Saran yang beredar menyuruhmu bikin project fiktif. Itu menjawab pertanyaan sesama desainer, bukan pertanyaan pemilik bengkel. Ini urutan yang dibalik, plus rencana satu minggu.

Muhammad Multazam 7 menit baca
Isi tulisan
  1. Kenapa portofolio fiktif jarang menolong
  2. Klien pertamamu kemungkinan besar berjarak lima kilometer
  3. Balik urutannya: bikin dulu, baru tawarkan
  4. Sepuluh nama, bukan dua ratus
  5. Chat pertamanya, dan satu aturan yang bisa bikin nomormu kena
  6. Kalau bagian berulangnya mau dipangkas
  7. Rencana satu minggu, dan apa yang dihitung di ujungnya

Pertanyaannya hampir selalu berbentuk sama: saya sudah bisa bikin website, tapi belum punya portofolio, jadi tidak ada yang mau pakai. Lalu jawaban yang beredar juga hampir selalu sama: bikin project fiktif dulu, atau kerjakan gratis buat teman.

Dua-duanya bukan jawaban yang salah. Cuma dua-duanya menyelesaikan masalah yang berbeda dari masalahmu.

Kenapa portofolio fiktif jarang menolong

Portofolio dibaca berbeda oleh dua jenis orang. Sesama desainer membacanya untuk menilai kemampuanmu. Pemilik bengkel tidak. Dia membacanya untuk satu pertanyaan: punyaku nanti kelihatannya bagaimana.

Project fiktif menjawab pertanyaan pertama dan melewatkan yang kedua. Kamu menunjukkan halaman kafe karangan bernama "Kopi Senja", dan yang dia lihat tetap bukan bengkelnya. Dia masih harus membayangkan, dan meminta orang membayangkan itu yang bikin chat pertama jarang dibalas.

Kerja gratis punya masalah lain. Yang datang biasanya orang yang memang tidak berniat membayar, dan kamu menghabiskan dua minggu untuk belajar sesuatu yang sebenarnya sudah kamu tahu.

0 janji

yang bisa diberikan siapa pun soal peringkat maupun hasil penjualan. Google menuliskannya untuk urusan peringkat, dan alasan yang sama berlaku di sini: yang bisa diatur cuma caranya, bukan hasilnya. Termasuk tulisan ini.

Halaman Do you need an SEO? di Google Search Central. Kalimat aslinya: No one can guarantee a #1 ranking on Google.

Klien pertamamu kemungkinan besar berjarak lima kilometer

Bukan di platform freelance, dan bukan di luar negeri. Di jalan yang kamu lewati tiap hari.

30,21 juta

unit UMKM nonpertanian tercatat di Indonesia per 31 Desember 2025, dan 99,70 persen di antaranya usaha mikro. Itu bukan perusahaan dengan tim pemasaran. Itu bengkel, katering, bimbel, dan salon yang pemiliknya memutuskan sendiri, hari itu juga, tanpa rapat.

Data UMKM dari KADIN Indonesia, bersumber dari SIDT-UMKM Kementerian UMKM.

Bahwa pemiliknya memutuskan sendiri itu bagian yang paling sering dilewatkan. Di usaha sebesar itu tidak ada prosedur pengadaan dan tidak ada tiga tanda tangan. Kalau barangnya masuk akal dan harganya masuk akal, jawabannya bisa keluar sore itu juga.

230 juta

orang di Indonesia memakai internet pada akhir 2025, sekitar 80,5 persen penduduk. Pelanggan usaha-usaha itu sudah pindah ke sana lebih dulu. Usahanya yang sering belum menyusul.

Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal.

Balik urutannya: bikin dulu, baru tawarkan

Ini satu-satunya saran di tulisan ini yang benar-benar berbeda dari yang lain. Berhenti membuat portofolio untuk dirimu sendiri. Buat halaman yang sesungguhnya, untuk satu usaha yang sesungguhnya, lalu kirim ke pemiliknya.

Isinya pakai data usaha itu sendiri: nama, alamat, jam buka, nomor WhatsApp, rating dan ulasannya di Maps. Semua itu memang sudah terbuka untuk umum, dan bagaimana mengambilnya saya tulis terpisah di tulisan soal mengambil data dari Google Maps.

Yang berubah bukan kualitas halamanmu. Yang berubah kalimat pembukanya. Bandingkan dua ini:

Sebelum
"Halo Pak, saya jasa pembuatan website. Apakah bengkelnya sudah punya website?" Dia diminta menjawab pertanyaan, lalu membayangkan sesuatu, lalu memutuskan. Tiga beban, dan belum ada yang dia dapat.
Sesudah
"Halo Pak, saya bikinkan contoh halaman untuk Bengkel Rahmat, sudah ada jam buka dan tombol WhatsApp-nya. Silakan dibuka." Dia tinggal mengetuk satu tautan, dan yang muncul namanya sendiri.

Satu pekerjaan yang sama, dua hasil yang jauh berbeda, dan bedanya bukan di kemampuanmu. Bedanya kamu datang sudah membawa barangnya.

Efek sampingnya: sesudah sepuluh chat, kamu punya sepuluh halaman nyata dengan data usaha nyata. Itu portofoliomu, dan dia terkumpul sambil kamu bekerja, bukan sebelum.

Sepuluh nama, bukan dua ratus

Godaan pertama orang yang baru mulai adalah mengumpulkan daftar sepanjang mungkin. Jangan. Daftar dua ratus nama membuatmu merasa sudah bekerja padahal belum mengirim satu pesan pun.

  • Pilih satu jenis usaha yang kamu paham. Pernah kerja di kafe, mulai dari kafe. Kamu tahu jam ramainya kapan dan apa yang bikin pemiliknya pusing, dan itu kedengaran di kalimat pertamamu.
  • Satu kota, satu kategori, sepuluh nama. Cukup untuk tahu apakah kamu sanggup mengirim pesannya, dan itu yang sebenarnya sedang kamu uji.
  • Buang yang sudah punya website. Bukan karena tidak bisa dijual, tapi karena percakapannya jadi soal mengganti yang sudah ada, dan itu percakapan yang lebih berat untuk pekerjaan pertamamu.
  • Dahulukan yang ulasannya ramai tapi belum punya situs. Ramai artinya usahanya hidup dan ada uangnya. Belum punya situs artinya tidak ada yang perlu kamu bantah.

Chat pertamanya, dan satu aturan yang bisa bikin nomormu kena

Salurannya sudah jelas, dan itu bukan email.

9 dari 10

pengguna internet di Indonesia memakai WhatsApp. Kabar baiknya kamu tidak perlu membawa orang ke aplikasi baru. Kabar buruknya, karena semua orang menawarkan lewat sana, pesan yang kelihatan disebar dibuang paling cepat.

Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal.

Dan ini bagian yang paling sering bikin orang celaka di bulan pertama:

Dua syarat

yang menurut kebijakan resmi WhatsApp harus terpenuhi sebelum sebuah akun bisnis boleh menghubungi seseorang: orang itu sudah memberikan nomornya, dan sudah menyatakan bersedia menerima pesan darimu. Menyalin seratus nomor dari hasil pencarian lalu menyebar pesan yang sama melanggar keduanya, dan nomormu yang menanggung.

WhatsApp Business Messaging Policy.

Jadi sepuluh pesan itu dikirim satu per satu, dari nomor pribadimu, masing-masing menyebut nama usahanya dan membawa tautan yang memang dibuat untuk dia. Lebih lambat, dan justru itu yang membuatnya bertahan. Susunan pesannya saya tulis terpisah di tulisan soal chat pertama.

Kalau bagian berulangnya mau dipangkas

Semua di atas bisa dikerjakan manual, gratis, dan memang begitu saya mengerjakannya dulu. Ongkosnya waktu: buka Maps, buka listingnya satu per satu, catat nomornya, bikin halaman dari nol, cari tempat menayangkannya. Sekitar setengah hari untuk satu calon klien, dan sepuluh calon klien menghabiskan seminggu sebelum satu pun dibalas.

SiteFrenz alat yang saya buat untuk memampatkan urutan itu, dan saya menyebutnya karena memang buatan saya, bukan karena sedang membandingkannya dengan yang lain. Ketik jenis usaha dan kotanya, daftarnya keluar sudah terurut, halamannya ikut dibuatkan dari data usaha itu sendiri dan langsung tayang di alamat yang bisa dibuka kliennya.

Batasnya jelas: alat ini menyiapkan barangnya dan berhenti di situ. Yang mengirim pesannya, menyebut harganya, dan menutup penjualannya tetap kamu, dan tiga itu memang tidak bisa diwakilkan.

Lihat dulu sebelum memutuskan

Halaman produknya menyebutkan semuanya, termasuk yang tidak enak: butuh Chrome di komputer, dipasang dari berkas dan bukan dari Chrome Web Store, dan tidak ada pengembalian uang. Rp 175 ribu untuk setahun.

Lihat SiteFrenz

Rencana satu minggu, dan apa yang dihitung di ujungnya

  • Hari satu. Pilih kategori dan kota. Kumpulkan sepuluh nama yang belum punya website, lengkap dengan nomornya.
  • Hari dua sampai empat. Buat halamannya, satu per satu, pakai data usahanya masing-masing. Pastikan tiap halaman benar-benar bisa dibuka dari HP, bukan cuma ada di komputermu.
  • Hari lima. Kirim sepuluh pesan. Satu per satu, masing-masing menyebut nama usahanya.
  • Hari enam dan tujuh. Jangan kirim apa-apa lagi. Tunggu, dan balas yang membalas.
  • Lalu hitung. Berapa yang dibaca, berapa yang dibalas, berapa yang bertanya harga. Tiga angka itu punyamu sendiri, dan lebih berguna daripada tulisan mana pun, termasuk yang ini.

Kalau dari sepuluh tidak ada yang membalas, yang perlu diperbaiki hampir selalu kalimat pembukanya atau pilihan usahanya, bukan kualitas halamanmu. Itu kabar baik, karena dua-duanya jauh lebih cepat diperbaiki.

Mulai dari sepuluh nama

Rp 175 ribu untuk setahun, tanpa batas jumlah lead. Pembeliannya di situs SiteFrenz sendiri. Kalau kamu belum yakin, chat dulu dan ceritakan kamu biasanya kenal usaha jenis apa. Kalau menurut saya ini belum cocok buat kamu, itu yang akan saya bilang.

Sumber

  1. KADIN Indonesia, Data UMKM Indonesia (sumber SIDT-UMKM Kementerian UMKM)
  2. DataReportal, Digital 2026: Indonesia
  3. WhatsApp Business Messaging Policy
  4. Google Search Central, Do you need an SEO?

Tulisan lain

Belum pernah menawarkan sama sekali? Bilang begitu saja waktu chat.

Saya lebih suka tahu itu di awal daripada kamu bingung sendiri di pesan kelima.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp