Menagih
Harga Pertamamu Bukan Soal Berapa Kamu Pantas Dibayar. Soal Berapa yang Membuatmu Berani Menagih.
Kemurahan bukan strategi masuk, dan kemahalan bukan tanda percaya diri. Ini cara menentukan angkanya, apa yang tidak boleh ikut masuk ke dalamnya, dan kapan menaikkannya.
Isi tulisan
Tulisan ini untuk orang yang menjual jasa pembuatan website. Kalau kamu pemilik usaha yang ingin tahu harga wajarnya dari sisi pembeli, yang kamu cari ada di tulisan soal biaya website usaha.
Pertanyaan ini biasanya datang sesudah tiga hal beres: kamu sudah bisa membuat halamannya, sudah punya daftar calon klien, dan sudah berani mengirim chat pertama. Lalu ada yang membalas berapa harganya? dan semuanya membeku.
Yang membeku bukan hitungannya, melainkan keberaniannya. Itu sebabnya nasihat yang cuma menyuruh hargai dirimu tidak menolong sama sekali. Yang menolong adalah punya cara menghitung, supaya angka yang keluar dari mulutmu terasa seperti hasil, bukan seperti tebakan.
Dua kesalahan yang berlawanan, dan dua-duanya mahal
- Terlalu murah
- Kelihatannya aman karena lebih mudah disetujui. Masalahnya klien yang datang karena harga adalah klien yang paling banyak minta revisi, paling sering telat membayar, dan paling sulit dinaikkan harganya tahun depan. Kamu juga jadi tidak sanggup menolak permintaan tambahan, karena menolak terasa tidak pantas di harga segitu.
- Terlalu mahal untuk yang belum punya bukti
- Harga tinggi menuntut sesuatu yang bisa ditunjuk: halaman yang sudah tayang, atau nama yang sudah dikenal. Tanpa itu, angka besar cuma memperpanjang keraguan, dan kamu kehilangan orang yang sebenarnya mau.
Jalan keluarnya bukan mencari angka tengah, tapi mengubah apa yang kamu jual di beberapa klien pertama: bukan harga murah, melainkan lingkup yang kecil. Satu halaman, satu putaran revisi, selesai dalam seminggu. Itu menjaga harganya tetap masuk akal tanpa membuatmu bekerja tanpa batas.
Tiga cara menghitung, dan pakai ketiganya sekaligus
- Dari waktumu. Catat sekali saja, jujur, berapa jam habis dari chat pertama sampai halamannya tayang. Termasuk menunggu foto dari kliennya, termasuk revisi. Lalu tentukan sendiri satu jammu bernilai berapa. Ini lantai harganya, angka yang tidak boleh kamu turuni.
- Dari pasarnya. Bukan dari grup yang saling banting harga, tapi dari penawaran yang benar-benar terbit dan bisa dibuka orang. Yang begitu jumlahnya sedikit, jadi kumpulkan yang ada dan lihat pola apa yang muncul.
- Dari nilainya buat dia. Warung yang satu meja pelanggannya bernilai seratus ribu tidak menimbang halamanmu dari jam kerjamu. Dia menimbangnya dari berapa meja tambahan yang mungkin datang. Itu bukan alasan menaikkan harga sesukanya, tapi alasan untuk berhenti merasa harga wajar itu kemahalan.
harga landing page di situs ini, untuk satu halaman lengkap dengan penulisan teks, tombol WhatsApp, peta, SEO dasar, dan satu putaran revisi. Ini satu titik dari satu penjual, bukan survei pasar, dan saya sebut karena bisa kamu buka dan periksa sendiri.
Halaman harga di situs ini. Saya tidak menyebut rentang harga pasar Indonesia, karena tidak ada sumber yang bisa kamu buka untuk itu, dan mengarang angkanya akan jadi persis jenis angka yang blog ini larang.
Tiga hal yang tidak boleh ikut masuk ke harga jasamu
Ini yang paling sering membuat penjual pemula rugi tanpa sadar, dan baru terasa setahun kemudian.
- Domain dan hosting. Biarkan kliennya membayar langsung ke penyedianya, atas namanya sendiri. Kalau kamu talangi supaya kelihatan murah, kamu yang ditagih tahun depan, dan dia merasa tidak pernah menyetujuinya. Ini juga yang membuatmu tidak terjerat, karena nama pemilik domain sulit dipindahkan belakangan.
- Sertifikat HTTPS. Sertifikat gratis tersedia dan sebagian besar penyedia memasangnya dengan satu tombol. Menagihnya sebagai tambahan adalah hal yang akan kamu sesali begitu kliennya mencari tahu.
- Janji peringkat Google. Jangan menjualnya dengan harga berapa pun, karena tidak ada yang bisa memenuhinya. Google sendiri menulis bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menjamin peringkat satu. Yang boleh kamu tagih pekerjaannya: halaman cepat, isi yang jelas, pendaftaran ke Search Console.
Cara menyebut angkanya tanpa gemetar
Urutannya yang menentukan, bukan besarnya. Menyebut angka sebelum dia tahu apa yang dia dapat membuat angka apa pun terdengar mahal.
- Sebutkan isinya dulu, baru angkanya. Satu halaman berisi apa saja, berapa lama, berapa kali revisi. Baru harga. Tiga kalimat, bukan tiga paragraf.
- Sebut satu angka, bukan rentang. Rentang mengundang tawaran di ujung bawahnya, selalu. Kalau lingkupnya bisa berbeda, sebut satu angka untuk lingkup dasar lalu sebut apa yang membuatnya naik.
- Jangan minta maaf sesudah menyebutnya. Kalimat seperti kalau kemahalan bisa nego yang keluar sebelum dia sempat menjawab membatalkan angkamu sendiri. Sebutkan, lalu diam.
- Pisahkan yang dibayar ke kamu dan yang dibayar ke penyedia. Sebutkan dua-duanya di awal supaya tidak ada kejutan, dan supaya jelas kamu tidak mengambil untung dari sewa tahunan itu.
Sebutkan lingkupnya, saya bantu menakar
Tulis apa saja yang kamu kerjakan untuk satu klien, dari chat pertama sampai halamannya tayang. Saya balas menurut saya wajarnya di angka berapa, dan bagian mana yang sebaiknya tidak kamu tanggung.
Chat WhatsAppKalau ditawar
Ditawar itu normal dan bukan penghinaan. Yang keliru cuma satu cara menanggapinya, yaitu langsung menurunkan angka. Itu mengajari kliennya bahwa angka pertamamu tidak sungguhan, dan pelajaran itu berlaku selamanya.
Yang lebih baik: turunkan lingkupnya, bukan harganya. Kalau anggarannya separuh, tawarkan pekerjaan yang separuh juga, misalnya tanpa penulisan teks karena teksnya dia sediakan sendiri, atau tanpa sesi foto. Harga turun karena pekerjaannya berkurang, bukan karena kamu mengalah.
Dan kalau memang tidak ketemu, tidak apa-apa. Klien yang batal di angka wajar jauh lebih murah daripada klien yang jadi di angka rugi.
Kapan menaikkan harga
Tanda paling jelas bukan perasaan, melainkan antrean. Kalau dua orang berturut-turut setuju tanpa menawar sama sekali, harganya sudah di bawah pasarmu. Naikkan di klien berikutnya, bukan di klien yang sedang berjalan.
Menaikkan harga ke klien lama jauh lebih sulit daripada memasang harga baru ke orang baru, dan itu satu lagi alasan kenapa terlalu murah di awal mahal ongkosnya. Harga awal yang wajar melindungi kamu dari percakapan yang tidak enak setahun kemudian.
Kalau bagian yang berulang sudah dipersingkat, jam kerjamu ikut berubah
Harga dari waktumu bergantung pada berapa jam yang habis per klien. Halaman contoh, teks, proposal, dan kalimat pembuka yang sudah disiapkan memotong bagian itu, dan itu yang membuat harga wajar tetap masuk akal buatmu.
Lihat SiteFrenzSatu kalimat untuk dibawa pulang: tentukan angkamu sebelum ada yang bertanya. Angka yang disiapkan waktu tenang selalu lebih baik daripada angka yang dikarang waktu chat sudah masuk.
Sumber
Tulisan lain
- Menayangkan Bagian yang Bikin Orang Berhenti Sebelum Klien Pertama: Menayangkannya. Sekali Lewat, Sisanya Gampang. Beli alamatnya, siapkan tempatnya, unggah berkasnya, sambungkan keduanya. Empat langkah, satu sore, dan kamu tidak perlu jadi anak IT.
- Chat pertama Chat Pertamamu Tidak Dibalas Bukan Karena Kurang Sopan. Karena Kamu Menyuruh Dia Membayangkan Sesuatu. Susunan pesan yang dibalas, satu contoh utuh yang bisa kamu tiru, dan satu aturan WhatsApp yang bisa membuat nomormu dibatasi kalau kamu menyebarnya.
- Biaya Website Rp 500 Ribu dan Website Rp 50 Juta Sama-Sama Ada. Yang Membedakan Bukan Kualitas Gambarnya. Harga website usaha bergerak seratus kali lipat untuk barang yang dari luar kelihatan mirip. Ini rinciannya, termasuk biaya yang baru muncul tahun kedua.