Foto dan ulasan
Bolehkah Pakai Foto dan Ulasan Google Maps untuk Website Klien? Datanya Boleh, Fotonya Belum Tentu.
Jawaban yang beredar bilang boleh asal sumbernya dicantumkan. Undang-undangnya tidak berkata begitu. Ini garisnya, siapa yang perlu dimintai izin, dan urutan yang aman sampai serah terima.
Isi tulisan
Kamu sedang membuat halaman contoh untuk sebuah warung bakso dari profil Google Maps-nya. Datanya lengkap, dan bagian yang paling meyakinkan justru fotonya: mangkuk yang masih mengepul, etalase di depan, antrean di jam makan siang. Kamu tambahkan tiga ulasan bintang lima sebagai testimoni, dan halamannya langsung terasa hidup.
Lalu ada pertanyaan kecil yang terus mengganjal: sebenarnya boleh tidak? Kamu mencarinya, dan jawaban yang paling sering muncul kira-kira begini: boleh, asal sumbernya dicantumkan.
Jawaban singkatnya
Data boleh dipakai. Foto dan ulasan butuh izin dari orang yang membuatnya. Dan untuk banyak foto di profil Maps, orang itu bukan pemilik usahanya.
Mencantumkan sumber tidak mengubah apa pun di sini. Undang-undang Hak Cipta memang membolehkan memakai ciptaan orang lain dengan menyebut sumbernya, tapi untuk keperluan yang disebut satu per satu: pendidikan, penelitian, karya ilmiah, laporan, kritik atau tinjauan, dan beberapa lagi. Membuat website untuk usaha yang membayarmu tidak ada di daftar itu.
Di mana garisnya, menurut undang-undangnya sendiri
Nama usaha, alamat, nomor telepon, jam buka, rating, dan jumlah ulasan itu data. Undang-undangnya menyebut terang bahwa data tidak dilindungi hak cipta, walaupun sudah dituliskan atau digabungkan dalam sebuah ciptaan. Google menulis hal yang searah di persyaratan layanannya: informasi faktual yang terbuka untuk umum, seperti koreksi alamat sebuah usaha, dianggap pengetahuan umum yang bebas dipakai siapa saja.
Foto lain soal. Menurut penjelasan undang-undangnya, karya fotografi meliputi semua foto yang dihasilkan dengan kamera. Tidak ada syarat fotonya bagus atau diambil fotografer. Foto yang dijepret pelanggan dengan HP sambil menunggu pesanan termasuk. Hak ciptanya muncul sendiri begitu fotonya jadi, tanpa didaftarkan ke mana pun.
lamanya hak cipta sebuah foto berlaku, dihitung sejak foto itu pertama kali diumumkan. Foto yang diunggah ke Maps tahun lalu masih punya pemilik sampai jauh sesudah website yang kamu buat tidak dipakai lagi.
UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Pasal 59 ayat (1) huruf a. Soal data, Pasal 41 huruf b. Soal foto kamera, penjelasan Pasal 40 ayat (1) huruf k.
Google juga tidak mengambil alih hak itu. Persyaratan layanannya menulis bahwa konten yang diunggah orang tetap milik orang itu. Izin yang diberikan pengunggah hanya supaya Google bisa menjalankan layanannya, bukan supaya kamu bisa memakainya di website lain. Untuk konten milik orang lain yang tampil di layanan Google, persyaratan yang sama bilang: jangan dipakai tanpa izin pemiliknya, kecuali hukum membolehkan.
denda paling banyak, atau penjara paling lama empat tahun, untuk menerbitkan, menggandakan, mendistribusikan, atau mengumumkan ciptaan orang lain untuk kepentingan komersial tanpa izin. Perkaranya baru berjalan kalau pemilik ciptaannya mengadu. Jadi risiko nyatanya bukan polisi yang datang tiba-tiba, tapi satu orang yang mengenali fotonya sendiri di website usaha lain.
UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Pasal 9 ayat (1), Pasal 113 ayat (3), dan Pasal 120 soal delik aduan.
Siapa sebenarnya yang memotret foto di profil itu
Foto di profil sebuah usaha diunggah dua pihak. Sebagian oleh pemiliknya. Sebagian lagi oleh pelanggan, yang memang boleh mengunggah foto kunjungannya ke sana. Pemilik usaha tidak bisa mencegah itu. Google menuliskannya sendiri di halaman bantuannya: pemilik bisa melaporkan foto yang melanggar aturan, tapi tidak bisa menghentikan pelanggan mengunggah.
Ini penting buat kamu. Pemilik usaha hanya bisa memberi izin untuk foto yang dia ambil sendiri. Kalau dia bilang "pakai saja semua foto yang di Maps", izin itu tidak mencakup foto kiriman pelanggannya, karena foto-foto itu memang bukan miliknya.
Ulasan sama saja. Google menyebut ulasan sebagai contoh konten kreatif milik orang yang menulisnya. Lalu ada satu lapis lagi untuk foto yang memuat wajah: undang-undangnya melarang potret seseorang dipakai untuk reklame atau iklan komersial tanpa persetujuan tertulis orang yang dipotret. Foto antrean di jam makan siang biasanya penuh wajah.
Yang dilakukan SiteFrenz, dan bagian yang tetap kerjamu
Saya harus jujur soal alat saya sendiri di sini, karena dia menyentuh persis urusan ini. SiteFrenz membuat halaman contoh dari profil Maps sebuah usaha, supaya waktu pemiliknya membuka tautanmu, yang dia lihat usahanya sendiri. Begini pembagiannya:
- Datanya diisi dari profil Maps. Nama, alamat, telepon, jam buka, rating, jumlah ulasan, dan peta. Artinya bagian yang memang bebas dipakai sudah selesai tanpa kamu mengetik ulang.
- Angka rating dan jumlah ulasan cuma muncul kalau memang terbaca dari profilnya, dan yang datanya tidak ada ditandai untuk diisi. Artinya tidak ada angka karangan yang harus kamu pertanggungjawabkan di depan pemiliknya.
- Foto dari profilnya ikut diunduh ke dalam kit, dan tiga ulasan terpanjang disalin sebagai testimoni di halaman contoh. Tujuannya supaya pemilik mengenali tempatnya di layar pertama. Berkas di kit menyebut terus terang bahwa sebagian foto itu diunggah pelanggan, dan memintamu meminta izin atau menggantinya sebelum halamannya dijual.
- Tiap slot foto punya nama berkas dan prompt gambar sementaranya sendiri. Artinya kalau foto pelanggan kamu buang, halamannya tidak bolong. Kit-nya juga menyebut satu batas yang sama kerasnya: gambar buatan tidak boleh berpura-pura jadi foto asli usahanya.
- Halaman contoh yang terbit di subdomain SiteFrenz tidak diindeks mesin pencari. Artinya contoh itu tidak muncul di Google, walaupun tetap bisa dibuka siapa pun yang memegang tautannya.
Bingkainya disiapkan. Isinya harus datang dari orang yang berhak. Dan satu hal tidak bisa dikerjakan alat ini: membedakan foto pemilik dari foto pelanggan. Dia mengunduh foto yang ada di profil tanpa tahu siapa pengunggahnya. Memilahnya kerjamu, dan caranya ada di bagian berikut.
Lihat dulu alatnya sebelum memutuskan
Halaman produknya menyebutkan semuanya, termasuk yang tidak enak: butuh Chrome di komputer, dipasang dari berkas dan bukan dari Chrome Web Store, dan tidak ada pengembalian uang. Rp 175 ribu untuk setahun.
Lihat SiteFrenzUrutan yang aman, dari contoh sampai serah terima
- Halaman contoh
- Pakai datanya dengan bebas. Untuk foto, yang paling aman adalah foto yang jelas diunggah pemiliknya, atau gambar sementara. Foto pelanggan sebaiknya tidak dipakai sama sekali, walaupun contoh itu cuma untuk satu orang, karena halaman yang terbit tetap bisa dibuka siapa pun yang memegang tautannya. Untuk ulasan, tampilkan rating dan jumlahnya, lalu beri tombol ke profil Google Maps-nya supaya orang membaca sendiri di sana.
- Waktu dia bilang tertarik
- Minta lima sampai sepuluh foto dari galeri HP-nya. Hampir semua pemilik usaha punya, dan foto dari pemilik biasanya lebih jujur menggambarkan tempatnya. Kalau kamu datang dan memotret sendiri, kamu pemegang hak cipta foto itu, jadi tulis di penawaranmu bahwa klien boleh memakainya untuk usahanya.
- Sebelum diserahkan
- Periksa sekali lagi tiap foto: dari siapa, dan izinnya ada di mana. Testimoni cuma dipasang kalau yang menulisnya setuju. Cara paling mudah: pemilik sendiri yang bertanya ke pelanggan setianya, bukan kamu yang menyalin dari Maps.
Aturan soal mengambil datanya sendiri, termasuk batas yang ditulis Google di berkas robots, saya bahas terpisah di tulisan soal mengambil data dari Google Maps.
Yang biasanya ditanyakan
- Semua orang juga pakai foto dari Maps. Kenapa saya harus repot?
- Karena perkaranya delik aduan, sebagian besar memang tidak pernah kena. Tapi yang kena bukan "semua orang". Yang kena satu website, dan di website itu ada nama klienmu. Kalau kamu menerbitkannya lewat SiteFrenz, ketentuan layanannya juga menaruh tanggung jawab atas isi halaman, termasuk soal hak cipta, di pihak yang menerbitkan.
- Kalau fotonya saya potong dan beri filter, jadi milik saya?
- Tidak. Mengubah dan mengadaptasi sebuah ciptaan termasuk hak penciptanya sendiri, bukan celah untuk mengambilnya.
- Pemiliknya sendiri yang bilang boleh pakai semua foto di Maps.
- Dia hanya bisa mengizinkan foto yang dia ambil. Tanyakan balik: foto mana yang dari dia. Jawabannya sekaligus memberi tahu kamu foto mana yang harus diganti.
- Bagaimana kalau isi ulasannya saya tulis ulang dengan kata-kata sendiri?
- Itu tidak lagi testimoni, itu karangan yang dipasang atas nama pelanggan. Lebih buruk dari menyalin. Tampilkan rating dan jumlah ulasannya saja, karena itu data.
Yang bisa kamu kerjakan hari ini
- Buka halaman contoh yang sudah pernah kamu kirim. Tandai tiap foto dan tiap testimoni: dari siapa.
- Ganti yang tidak jelas asalnya. Gambar sementara lebih baik daripada foto yang tidak bisa kamu pertanggungjawabkan.
- Siapkan satu kalimat untuk meminta foto. Misalnya: "Kalau Bapak punya foto tempat atau menu di HP, kirim lima saja, nanti saya pasang di halamannya."
- Tambahkan satu baris di penawaranmu. Klien menyatakan foto yang dia kirim memang miliknya, dan foto yang kamu ambil sendiri boleh dia pakai untuk usahanya.
Tidak ada yang perlu dibeli untuk empat hal itu, dan semuanya selesai dalam satu sore.
Mulai dari halaman yang bersih asal-usulnya
Rp 175 ribu untuk setahun, tanpa batas jumlah lead. Pembeliannya di situs SiteFrenz sendiri. Kalau kamu belum yakin, chat dulu dan ceritakan bagaimana kamu biasanya mengurus foto untuk klien. Kalau menurut saya alat ini belum cocok buat caramu, itu yang akan saya bilang.
Sumber
Tulisan lain
- Tawaran kedua Jasa Apa yang Dibutuhkan UMKM Selain Website? Jawabannya Sudah Ditulis Pelanggannya. Daftar jasa digital yang beredar menyuruhmu menawarkan semuanya. Padahal ulasan di Google Maps sudah menunjuk satu hal yang paling mengganggu usaha itu, lengkap dengan buktinya.
- Klien luar negeri Cara Dapat Klien Luar Negeri untuk Jasa Website. Bukan Lewat Lelang di Marketplace. Saran yang beredar menyuruhmu buka lapak di Fiverr. Ada jalan yang sama dengan caramu mencari klien di kota sendiri, asal kamu tahu dulu aturan pesan pertama di negara tujuanmu.
- Riset klien Cara Ambil Data Usaha dari Google Maps, dan Garis yang Sebaiknya Tidak Kamu Lewati. Bukan ilegal, bukan juga bebas sebebasnya. Aturannya ada di dua berkas yang bisa kamu buka sendiri sekarang, dan risiko terbesarnya ternyata bukan di mengambil datanya.