Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. AI

AI

Bikin Website Pakai AI Sekarang Gampang. Yang Mahal Sekarang Menjualnya.

Google sendiri sudah bilang alatnya tidak dipermasalahkan. Jadi yang menentukan bukan AI mana yang kamu pakai, tapi berapa pemilik usaha yang kamu hubungi minggu ini.

Muhammad Multazam 6 menit baca
Isi tulisan
  1. Cara membuatnya, singkat saja
  2. Yang keluar rapi, dan tiga tempat yang masih kosong
  3. Apakah Google menghukum website buatan AI
  4. Yang sekarang langka bukan orang yang bisa bikin
  5. Jadi dijual ke siapa
  6. Kalau bagian mencarinya mau dipangkas
  7. Ringkasnya

Dua tahun lalu, membuat satu halaman usaha yang rapi butuh orang yang sudah belajar bertahun-tahun. Sekarang tidak lagi, dan itu betul, bukan omongan pemasaran. Kamu bisa membuktikannya sendiri sore ini juga.

Yang tidak ikut berubah, dan ini pokok seluruh tulisan: siapa yang mau membayarnya. Bagian itu tidak pernah dibahas di tutorial mana pun, padahal justru di situ pekerjaannya sekarang berada.

Cara membuatnya, singkat saja

Bagian ini sengaja pendek, karena ratusan tulisan lain sudah mengurusnya dan tidak perlu saya ulang. Polanya sama di hampir semua alat:

  • Ceritakan usahanya. Jenis usaha, nama, kota, apa yang dijual, dan nomor WhatsApp-nya. Makin spesifik, makin sedikit yang perlu kamu betulkan nanti.
  • Minta strukturnya dulu, bukan desainnya. Bagian apa saja yang harus ada dan urutannya bagaimana. Desain yang bagus di atas urutan yang salah tetap tidak menjual.
  • Baru minta halamannya. Satu halaman utuh, bukan lima halaman terpisah. Untuk usaha kecil, satu halaman hampir selalu lebih baik.
  • Periksa empat hal secara manual. Nomor telepon, jam buka, alamat, dan harga. Empat ini yang paling sering dikarang, dan empat ini juga yang paling cepat merusak kepercayaan.

Satu jam pertama akan terasa ajaib. Jam kedua kamu akan mulai melihat batasnya.

Yang keluar rapi, dan tiga tempat yang masih kosong

Faktanya tetap harus kamu isi sendiri
Model bahasa tidak tahu jam buka bengkel di Sawojajar, dan kalau dibiarkan dia akan mengarang yang kedengarannya masuk akal. Satu nomor telepon salah sudah cukup untuk menyelesaikan percakapan dengan calon klienmu.
Fotonya tetap tidak ada
Gambar hasil generate kelihatan bagus di layar dan langsung ketahuan palsu oleh orang yang tiap hari ada di tempat itu. Foto asli usahanya tetap harus diminta ke pemiliknya.
Menayangkannya masih pekerjaan tersendiri
Halaman yang masih ada di komputermu belum bisa dikirim ke siapa pun. Langkah ini yang paling sering bikin orang berhenti, dan saya menulisnya terpisah di tulisan soal menayangkan website.

Apakah Google menghukum website buatan AI

Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul berikutnya, dan jawabannya sudah ditulis Google sendiri, bukan ditebak pengamat.

"no matter how it's created"

adalah empat kata dari kebijakan spam Google sendiri. Kalimat lengkapnya menyebut bahwa yang dianggap pelanggaran adalah membuat banyak halaman dengan tujuan utama memanipulasi peringkat dan tidak menolong pembaca, no matter how it's created. Jadi yang dinilai hasilnya, bukan alatnya. Satu halaman jujur berisi data usaha yang benar tidak jadi masalah karena dibuat dengan AI.

Halaman Spam policies for Google web search, bagian "Scaled content abuse".

Bacaan praktisnya: silakan pakai AI untuk mengerjakannya. Jangan pakai AI untuk menerbitkan tiga ratus halaman tipis dan berharap Google tidak sadar.

Yang sekarang langka bukan orang yang bisa bikin

Di sinilah letak pergeserannya, dan kalau kamu sedang memutuskan mau belajar apa, bagian ini yang penting.

Waktu membuat halaman masih sulit, orang yang bisa membuat otomatis punya nilai. Sekarang kemampuan itu tersebar luas dan makin hari makin murah. Yang tidak ikut murah adalah menemukan orang yang butuh, meyakinkannya, dan menyelesaikan pekerjaannya sampai dibayar.

30,21 juta

unit UMKM nonpertanian tercatat di Indonesia per 31 Desember 2025, dan 99,70 persen di antaranya usaha mikro. Mereka tidak akan membuat halamannya sendiri walaupun alatnya sudah gratis, karena masalahnya bukan biaya, melainkan tidak ada yang mengerjakan dan tidak tahu harus mulai dari mana.

Data UMKM dari KADIN Indonesia, bersumber dari SIDT-UMKM Kementerian UMKM.

Jadi kekhawatiran "AI bikin jasa website tidak laku" salah arah. Yang tergerus tarif untuk mengetik kodenya. Yang tetap dibayar orang yang datang membawa halaman jadi ke depan pemilik usaha dan menjelaskan kenapa dia butuh.

230 juta

orang di Indonesia memakai internet pada akhir 2025, sekitar 80,5 persen penduduk. Pelanggan usaha-usaha itu sudah pindah ke sana lebih dulu, dan itu alasan kenapa halamannya layak dibiayai, terlepas dari siapa atau apa yang mengetiknya.

Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal.

Jadi dijual ke siapa

Pertanyaan ini yang seharusnya kamu tanyakan sebelum membuka alat AI mana pun, bukan sesudah punya lima halaman contoh yang tidak jelas untuk siapa.

  • Satu kategori usaha dulu, bukan semua. Bengkel saja, atau katering saja. Halaman kesepuluh akan jauh lebih bagus dari yang pertama karena kamu sudah tahu apa yang penting buat mereka.
  • Cari yang belum punya website sama sekali. Google Maps menampilkannya terang-terangan di tiap listing, lewat ada tidaknya tombol Situs Web. Caranya saya tulis di tulisan soal mengambil data dari Google Maps.
  • Buat halamannya dengan data usaha itu sendiri. Bukan contoh karangan. Nama dia, alamat dia, jam buka dia. Ini yang membedakan chat yang dibalas dari chat yang dilewati.
  • Tayangkan dulu, baru kirim. Yang kamu kirim tautan yang langsung bisa dia buka di HP, bukan berkas yang harus diunduh.

Urutan lengkapnya dari nol sampai klien pertama saya tulis terpisah di tulisan soal klien pertama.

Kalau bagian mencarinya mau dipangkas

AI sudah memangkas waktu membuat halamannya. Yang belum terpangkas waktu mencari siapa yang mau dibuatkan, dan di kebanyakan orang justru bagian itu yang memakan seluruh sorenya.

SiteFrenz ekstensi Chrome yang saya buat untuk bagian itu, dan saya menyebutnya karena memang buatan saya. Ketik jenis usaha dan kotanya, daftar usaha yang belum punya website keluar sudah terurut lengkap dengan nomornya, halamannya ikut dibuatkan dari data usaha itu sendiri, lalu langsung tayang di alamat yang bisa dibuka kliennya.

Yang tetap punya kamu: mengirim pesannya, menyebut harganya, dan menyelesaikan pekerjaannya. Sesudah membaca bagian di atas, kamu tahu kenapa justru tiga itu yang sekarang dibayar orang.

Lihat dulu sebelum memutuskan

Halaman produknya menyebutkan semuanya, termasuk yang tidak enak: butuh Chrome di komputer, dipasang dari berkas dan bukan dari Chrome Web Store, dan tidak ada pengembalian uang. Rp 175 ribu untuk setahun.

Lihat SiteFrenz

Ringkasnya

Bikin website pakai AI memang sekarang gampang, dan Google tidak mempermasalahkan alatnya selama hasilnya benar-benar menolong pembaca. Empat hal tetap harus kamu periksa sendiri: nomor, jam buka, alamat, dan harga.

Tapi kalau tujuanmu menghasilkan uang dari kemampuan itu, yang menentukan bukan alat mana yang kamu pakai. Yang menentukan berapa pemilik usaha yang kamu hubungi minggu ini, dan apa yang kamu bawa waktu menghubunginya.

Mulai dari satu pencarian

Rp 175 ribu untuk setahun, tanpa batas jumlah lead. Pembeliannya di situs SiteFrenz sendiri. Kalau kamu masih ragu, chat dulu dan ceritakan kamu jualan apa. Kalau menurut saya ini belum cocok buat kamu, itu yang akan saya bilang.

Sumber

  1. Google Search Central, Spam policies for Google web search
  2. KADIN Indonesia, Data UMKM Indonesia (sumber SIDT-UMKM Kementerian UMKM)
  3. DataReportal, Digital 2026: Indonesia

Tulisan lain

Sudah bisa bikin, tinggal bingung jualnya?

Itu justru pertanyaan yang benar. Ceritakan kamu biasanya kenal usaha jenis apa.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp