Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. Mengawasi kontraktor

Mengawasi kontraktor

Mengawasi Kontraktor Bukan Soal Sering Datang. Soal Apa yang Kamu Pegang Sebelum Bayar.

Retensi lima persen itu alat tawar paling lemah yang kamu punya, karena sembilan puluh lima persennya sudah berpindah tangan lebih dulu.

Muhammad Multazam 8 menit baca
Isi tulisan
  1. Datang ke lokasi itu perlu, tapi itu belum pengawasan
  2. Yang bisa kamu tahan di akhir cuma sedikit
  3. Urutan yang benar-benar menahan uang
  4. Bagaimana urutan itu dipasang di TALOKA
  5. Yang tidak ikut jadi mudah
  6. Yang biasanya ditanyakan sebelum mulai
  7. Yang bisa kamu kerjakan minggu ini, tanpa membeli apa pun

Kamu sudah datang ke lokasi tiga kali minggu ini. Kamu foto beberapa bagian, kamu tegur satu dua hal, mandornya mengangguk. Lalu tagihan termin masuk, kamu baca angkanya, dan kamu sadar tidak punya satu pun alasan konkret untuk menundanya. Yang kamu punya cuma perasaan bahwa ada yang belum beres.

Perasaan itu biasanya benar. Yang tidak ada cuma bentuknya.

Saran yang paling sering kamu dengar soal cara mengawasi pekerjaan kontraktor ada dua: sering-sering datang, dan cari orang yang jujur. Dua-duanya bukan saran yang salah. Dua-duanya cuma tidak menghasilkan apa pun yang bisa kamu pegang waktu berhadapan dengan lembar tagihan.

Datang ke lokasi itu perlu, tapi itu belum pengawasan

Kedatangan menghasilkan kesan. Pengawasan menghasilkan catatan yang menempel pada satu pekerjaan tertentu, di satu tanggal tertentu, dan bisa dibuka lagi tiga bulan kemudian oleh orang yang waktu itu tidak ikut datang.

Bedanya kelihatan waktu ada yang dipersoalkan. Kalau yang kamu pegang kesan, percakapannya jadi adu ingatan, dan yang menang biasanya yang lebih sering ada di lokasi. Itu bukan kamu. Kalau yang kamu pegang catatan yang menunjuk satu foto, percakapannya berubah jadi memeriksa gambar bersama-sama, dan ingatan tidak lagi ikut dihitung.

Jadi pertanyaannya bukan seberapa sering kamu datang. Pertanyaannya: dari kunjungan terakhirmu, apa yang tersisa dalam bentuk yang bisa dibuka orang lain.

Yang bisa kamu tahan di akhir cuma sedikit

Banyak pemilik proyek merasa tenang karena ada retensi. Uangnya ditahan dulu, pikirnya, jadi kontraktornya pasti menyelesaikan kekurangannya. Angkanya perlu kamu lihat sebelum ketenangan itu dipakai sebagai pengganti pengawasan.

5%

Besaran nilai jaminan pemeliharaan pada pengadaan pemerintah, dihitung dari nilai kontrak. Artinya sembilan puluh lima persen nilai pekerjaan sudah berpindah tangan sebelum masa pemeliharaan dimulai.

Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal 35 ayat (3).

Aturan itu mengikat pengadaan pemerintah, dan di pekerjaan swasta besarannya ditentukan kontrakmu sendiri, jadi periksa dulu berapa yang benar-benar kamu tahan. Berapa pun angkanya, lima persen itu alat tawar yang lemah untuk pekerjaan yang salah di tahap awal. Membongkar dinding yang sudah diplester dan dicat jauh lebih mahal daripada lima persen nilai kontrak, dan kontraktor tahu itu sama baiknya denganmu. Jaminannya pun punya tanggal kedaluwarsa sendiri.

14 hari kerja

Jaminan pemeliharaan dikembalikan empat belas hari kerja setelah masa pemeliharaan selesai. Setelah itu tidak ada lagi uang yang menahan siapa pun, dan yang tersisa cuma dokumen.

Perpres Nomor 16 Tahun 2018, Pasal 35 ayat (2).

Kesimpulannya bukan retensi itu percuma. Kesimpulannya, kalau pengawasanmu bertumpu pada lima persen di ujung, kamu sedang menaruh seluruh tekanan di tempat yang paling kecil dayanya. Tekanan yang berguna ada di tengah, tiap kali satu tahap ditutup.

Urutan yang benar-benar menahan uang

Yang menahan pembayaran bukan kehadiranmu, dan bukan juga kepercayaanmu pada orangnya. Yang menahan pembayaran itu urutan. Tiga langkah, dan urutannya tidak boleh ditukar:

  • Bukti dulu. Satu tahap punya daftar titik yang harus difoto. Selama daftarnya belum penuh, tahapnya belum berstatus selesai. Ini bukan soal percaya atau tidak, ini soal kelengkapan berkas.
  • Penilaian sesudahnya. Tiap foto dinilai: lolos, perlu perbaikan, atau ditolak, dengan alasan yang menempel pada foto itu. Alasan yang tidak menempel pada satu gambar akan selalu bisa dibantah.
  • Pembayaran paling akhir. Termin tahap itu baru terbuka setelah penilaiannya beres. Bukan karena tanggalnya sudah jatuh tempo, tapi karena pekerjaannya sudah terbukti.

Kalau urutan ini dipegang, kamu tidak pernah lagi berada di posisi menolak tagihan tanpa alasan konkret. Alasannya sudah tersusun sebelum tagihannya datang, dan tersusun oleh orangmu sendiri di lokasi.

Tahap yang tidak bisa diperiksa ulang

Sebagian pekerjaan punya satu jendela waktu, dan setelah itu tertutup selamanya. Pembesian sebelum pengecoran. Instalasi pipa dan kabel sebelum dinding ditutup. Lapisan kedap air sebelum keramik dipasang. Kebocoran di situ baru ketahuan waktu musim hujan pertama, dan yang membongkar keramiknya nanti kamu, bukan yang memasangnya.

Untuk tahap seperti itu, foto bukan dokumentasi. Foto itu satu-satunya kesempatan memeriksa yang pernah ada. Dan tanggung jawab atas kegagalan bangunan berlaku sampai sepuluh tahun setelah penyerahan akhir, jadi jendela yang tertutup hari ini masih bisa ditanyakan orang jauh sesudah proyeknya selesai.

Membayar per tahap itu bukan hal aneh

Kalau ada yang bilang pembayaran per tahapan penyelesaian pekerjaan itu merepotkan dan tidak lazim, aturan pengadaan pemerintah sendiri menyebutnya sebagai salah satu dari tiga bentuk pembayaran prestasi pekerjaan, sejajar dengan pembayaran bulanan dan pembayaran sekaligus di akhir. Yang membuatnya terasa merepotkan bukan skemanya, tapi tidak adanya bukti yang menandai kapan satu tahap boleh disebut selesai.

Bagaimana urutan itu dipasang di TALOKA

TALOKA memasang urutan tadi sebagai jalur kerja, bukan sebagai anjuran di rapat. Tiap bagiannya menyambung ke satu hal yang berubah buat kamu:

  • Tiap tahap punya daftar titik yang harus difoto. Artinya kelengkapan berkas jadi syarat teknis, bukan perkara tegur-menegur yang harus kamu ulang tiap minggu.
  • Penilaian mutu berjalan dari gambar yang masuk, dalam hitungan detik. Artinya temuan sampai ke mejamu selagi orangnya masih di lokasi dan masih bisa memperbaikinya hari itu juga.
  • Penilaian mesin belum jadi keputusan sebelum orangmu menyetujui. Artinya yang menutup satu tahap tetap orang yang bertanda tangan, dan untuk pekerjaan struktural itu wajib.
  • Pembayaran tahap terbuka sendiri begitu tahapnya dinyatakan lolos. Artinya tidak ada lagi termin yang cair karena tanggalnya lewat, dan tidak ada lagi kontraktor rapi yang menunggu lebih lama daripada yang tidak rapi.
  • Tampilannya menyesuaikan peran. Inspektor melihat titik yang harus dia periksa. Kamu melihat satu hal: proyek ini sehat atau tidak.

Bagian terakhir itu yang biasanya paling cepat terasa di lapangan. Tukang yang kerjanya rapi berhenti merasa disamakan dengan yang asal jadi, karena uangnya cair lebih dulu, dan alasannya bisa dia lihat sendiri.

Mau dicek dulu untuk proyekmu

Kirim jenis proyeknya dan bagaimana termin pembayarannya dibagi sekarang. Saya balas dengan tahap mana yang paling pantas dipasangi syarat bukti lebih dulu, dan mana yang sebaiknya dibiarkan seperti sekarang.

Chat WhatsApp

Yang tidak ikut jadi mudah

Hubungan dengan kontraktormu. Menahan termin karena berkas kurang lengkap tetap percakapan yang tidak enak, apalagi di bulan pertama. Yang berubah cuma dasarnya: kamu berdebat soal kelengkapan, bukan soal siapa yang ingatannya benar. Itu lebih mudah, tapi tetap tidak enak.

Menyusun daftar titik wajib. Template checklist siap pakai kami paling lengkap untuk perumahan. Untuk pekerjaan lain, yang tahu titik mana yang menentukan tetap timmu. Kami dampingi menyusunnya, tapi bukan kami yang menentukan standar mutu proyekmu.

Pekerjaan yang sudah tertutup. Kalau proyekmu sudah jalan delapan bulan dan pembesiannya sudah dicor tanpa foto, tidak ada alat yang bisa mengembalikan itu. Yang bisa dipasang cuma tahap yang belum lewat.

Yang biasanya ditanyakan sebelum mulai

Berapa biayanya
Bayar sesuai pemakaian, tanpa biaya di muka dan tanpa minimum kontrak. Angkanya menyesuaikan skala proyek, jadi dihitung bersama
Kontraktor saya tidak mau pakai aplikasi
Yang memakai aplikasi itu tim mutumu, bukan kontraktornya. Yang dia rasakan cuma satu, terminnya cair lebih cepat kalau berkasnya lengkap
Kalau di lokasi tidak ada sinyal
Foto tersimpan di ponsel dan terkirim sendiri begitu jaringan kembali
Proyek saya cuma satu
Skemanya sama untuk satu proyek maupun seratus, dan mulai dari satu memang yang kami sarankan
Apakah ini mengganti konsultan pengawas
Tidak. Ini yang dipakai pengawasmu supaya temuannya tidak berhenti di buku catatannya sendiri
Berapa lama sampai timnya bisa jalan sendiri
Kami dampingi sampai bisa, dan biasanya yang lama bukan alatnya, tapi menyepakati daftar titik wajibnya

Yang bisa kamu kerjakan minggu ini, tanpa membeli apa pun

Buka jadwal termin proyekmu. Untuk tiap termin, tulis satu kalimat: apa bukti yang harus ada sebelum ini boleh cair. Kalau ada termin yang kalimatnya tidak bisa kamu tulis, di situ letak kebocorannya, dan kamu baru saja menemukannya tanpa alat apa pun.

Lalu ambil satu tahap yang paling mahal diperbaiki kalau salah. Untuk tahap itu saja, tetapkan lima titik yang wajib difoto, kirim daftarnya ke pengawasmu lewat WhatsApp, dan jangan tutup tahapnya sebelum lima-limanya masuk. Dua minggu cukup untuk tahu apakah cara ini pantas dipasang di seluruh proyek.

Bentuk lengkapnya waktu seluruh alur ini disatukan ada di studi kasus TALOKA, termasuk alasan kenapa tiap penilaian sengaja dibuat bisa dibantah dengan membuka fotonya.

Sumber

  1. Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Pasal 35 dan Pasal 53
  2. UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 65
  3. Halaman produk TALOKA
  4. Studi kasus TALOKA di Alicestech

Tulisan lain

Mau tahu tahap mana yang paling bocor di proyekmu

Ceritakan jenis proyeknya dan bagaimana terminnya dibagi sekarang. Nanti kamu dapat gambaran lingkup kerjanya dulu, sebelum kita bicara angka.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp