Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. AI dan mutu

AI dan mutu

Apakah AI Bisa Menilai Mutu Bangunan dari Foto? Sebagian, dan Batasnya Ada di Undang-Undang.

Yang tidak bisa dikerjakan mesin bukan karena mesinnya kurang pintar, tapi karena penetapnya sudah ditunjuk undang-undang, dan dia manusia.

Muhammad Multazam 7 menit baca
Isi tulisan
  1. Yang sebenarnya kamu tanyakan
  2. Yang memang bisa dikerjakan mesin dari sebuah foto
  3. Batasnya bukan pendapat saya, tapi undang-undang
  4. Yang paling awet dari semua ini justru fotonya
  5. Bagaimana batas itu dipasang di TALOKA
  6. Yang tetap harus kamu kerjakan sendiri
  7. Yang biasanya ditanyakan sesudah bagian ini
  8. Cara mengujinya sendiri dalam satu sore

Pertanyaan ini biasanya muncul dua menit setelah seseorang menunjukkan aplikasi yang katanya bisa menilai pekerjaan konstruksi dari foto. Orang teknik yang sudah lama di lapangan langsung curiga, dan curiganya beralasan. Mutu pekerjaan ditentukan oleh hal yang sering tidak terlihat di gambar: mutu beton, kepadatan tanah, kelurusan yang cuma ketahuan pakai alat.

Jawaban jujurnya: sebagian bisa, sebagian tidak, dan batas antara keduanya bukan soal seberapa canggih mesinnya. Batasnya sudah ditulis di undang-undang, dan itu bagian yang paling jarang disebut orang yang sedang menjual alatnya.

Yang sebenarnya kamu tanyakan

Kalau ditarik ke bentuk paling jujurnya, pertanyaannya bukan "apakah mesin bisa melihat". Pertanyaannya ada tiga, dan jawabannya berbeda-beda:

  • Bisakah mesin melihat cacat yang memang terlihat di foto. Ini soal kemampuan.
  • Bolehkah penilaian mesin dipakai untuk menahan atau mencairkan uang orang. Ini soal aturan.
  • Kalau nanti dipersoalkan, yang mana yang masih berlaku sebagai bukti. Ini soal yang paling jarang dipikirkan, dan justru yang paling menentukan.

Tiga pertanyaan itu sering dijawab sekaligus dengan satu kata, dan di situ kesalahannya dimulai.

Yang memang bisa dikerjakan mesin dari sebuah foto

Yang bisa dibaca mesin adalah yang bisa dilihat mata di gambar itu: retak pada permukaan, plesteran yang bergelombang, keramik yang nat-nya tidak lurus, besi yang jarak sengkangnya jelas berbeda dari sebelahnya, sampah material yang masih ada di area yang seharusnya sudah bersih.

Yang membuatnya berguna bukan kecerdasannya. Tiga hal yang lebih membosankan daripada itu:

  • Dia tidak pernah lelah. Foto keseratus dibaca dengan cara yang sama persis dengan foto pertama. Inspektor manusia, jam empat sore, tidak begitu, dan itu bukan kelemahan moral.
  • Dia tidak lupa menuliskan alasannya. Orang yang buru-buru menulis "tidak sesuai" lalu pindah ke titik berikutnya sedang menyiapkan perdebatan untuk dirinya sendiri tiga bulan lagi.
  • Dia cepat. Temuan yang sampai ke mejamu selagi orangnya masih di lokasi masih bisa diperbaiki hari itu. Temuan yang baru sampai besok pagi mendapati bendanya sudah tertutup plesteran.

Dan yang tidak bisa: apa pun yang tidak ada di dalam gambar. Mutu beton butuh hasil uji tekan. Kepadatan tanah butuh alat. Kelurusan pada jarak panjang butuh alat ukur, bukan mata. Siapa pun yang mengaku bisa menyimpulkan itu semua dari sebuah foto sedang menjual sesuatu yang tidak dia punya.

Batasnya bukan pendapat saya, tapi undang-undang

Ini bagian yang membuat pertanyaannya selesai. Kalau sebuah bangunan bermasalah setelah diserahterimakan, yang menetapkan penyebabnya bukan kontraktor, bukan pemilik proyek, dan jelas bukan aplikasi. Yang menetapkan itu seorang penilai ahli.

30 hari kerja

Batas waktu Menteri menetapkan penilai ahli sejak menerima laporan terjadinya kegagalan bangunan. Penilai ahli itu harus punya Sertifikat Kompetensi Kerja, punya pengalaman di klasifikasi bangunan yang bersangkutan, dan terdaftar di kementerian. Tugasnya menetapkan tingkat kepatuhan terhadap standar dan menetapkan penyebab kegagalannya.

UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 60 ayat (2) dan ayat (4), serta Pasal 61 ayat (1) dan ayat (2).

Jadi tidak ada aplikasi yang bisa menyatakan sebuah bangunan gagal atau tidak, sekarang maupun nanti, secanggih apa pun mesinnya. Yang bisa dikerjakan alat cuma satu, dan itu yang menentukan nasibmu waktu penilai ahli itu datang: memastikan bukti yang dia butuhkan benar-benar ada.

Hal yang sama berlaku dalam skala kecil. Menahan termin pembayaran adalah keputusan yang menyangkut uang orang. Keputusan seperti itu harus punya nama orang di belakangnya, bukan nama mesin.

Yang paling awet dari semua ini justru fotonya

Penilaian mesin akan berubah. Model diperbarui, ambangnya digeser, dan versi tahun depan bisa menilai foto yang sama dengan cara sedikit berbeda. Yang tidak berubah itu gambarnya, lengkap dengan catatan kapan dan siapa yang mengambilnya.

Alat bukti yang sah

Informasi elektronik dan dokumen elektronik beserta hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah, dan merupakan perluasan dari alat bukti yang sah menurut hukum acara di Indonesia. Pasal ini tidak diubah oleh perubahan UU ITE tahun 2016 maupun 2024.

UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2).

Ini yang membalik cara memilih alat. Pertanyaan "seberapa pintar penilaian mesinnya" ternyata pertanyaan kedua. Pertanyaan pertamanya: apakah alat ini menyimpan fotonya sebagai arsip yang masih bisa kamu buka sepuluh tahun lagi, lengkap dengan siapa yang mengambilnya dan kapan.

Kalau jawabannya tidak, penilaian mesin secerdas apa pun tidak menyelamatkan siapa-siapa.

Bagaimana batas itu dipasang di TALOKA

TALOKA dibangun dengan urutan yang sama seperti di atas, dan batasnya dipasang sebagai jalur kerja, bukan sebagai janji di halaman depan:

  • Penilaian mesin selalu berstatus usulan sampai orangmu menyetujuinya. Artinya yang tercatat sebagai keputusan tetap nama orang, dan itu yang dicari waktu ada yang mempersoalkan.
  • Untuk pekerjaan besar dan struktural, persetujuan orang wajib, tanpa kecuali. Artinya tidak ada jalur cepat yang bisa dipakai orang yang sedang dikejar tenggat.
  • Tiap penilaian menempel pada satu foto tertentu. Artinya penilaiannya bisa dibantah dengan cara paling sederhana yang ada: membuka gambarnya dan melihat sendiri.
  • Foto bukti disimpan sebagai arsip, bukan lampiran. Gambar ditaruh di penyimpanan objek terpisah, karena isi seperti itu tumbuh dengan cara yang berbeda dari basis data. Artinya arsipmu tidak ikut sesak waktu jumlah proyekmu bertambah.
  • Riwayatnya tersusun sendiri. Siapa memotret apa, kapan, dan siapa yang menyetujui. Itu isi berkas yang diminta orang waktu keadaannya sudah tidak enak.

Singkatnya, mesin dipakai untuk hal yang memang dia kerjakan lebih baik daripada manusia yang capek: membaca cepat, konsisten, dan tidak lupa menulis alasan. Keputusannya tetap milik orang.

Mau menguji dugaanmu sendiri

Kirim jenis pekerjaan yang paling sering kamu persoalkan di proyekmu. Saya balas dengan jujur mana yang memang bisa dibaca dari foto dan mana yang tidak, termasuk kalau jawabannya tidak bisa.

Chat WhatsApp

Yang tetap harus kamu kerjakan sendiri

Menyepakati apa yang disebut lolos. Mesin menilai berdasarkan standar yang kamu tetapkan. Kalau di timmu sendiri belum ada kesepakatan soal retak selebar berapa yang masih boleh, tidak ada alat yang bisa menyepakatinya untukmu.

Memotret dengan benar. Foto gelap, goyang, atau diambil dari jarak sepuluh meter tidak bisa dinilai siapa pun. Ini bagian yang paling sering dikira masalah teknologi, padahal masalah kebiasaan.

Datang ke lokasi. Ada hal yang tidak akan pernah masuk foto, dan sebagian yang paling penting justru begitu: bau, getaran, suara waktu diketuk. Alat ini memindahkan pekerjaan menyalin catatan, bukan pekerjaan memeriksa.

Yang biasanya ditanyakan sesudah bagian ini

Seberapa sering mesinnya salah
Tergantung jenis pekerjaan dan mutu fotonya, dan siapa pun yang menyebut satu angka untuk semua kasus sedang menebak. Karena itu penilaiannya dipasang sebagai usulan, bukan keputusan
Kalau penilaiannya salah, siapa yang bertanggung jawab
Orang yang menyetujuinya, sama seperti sekarang. Yang berubah cuma satu, dia menyetujui sambil melihat fotonya
Apakah ini menggantikan uji laboratorium
Tidak, dan tidak ada yang bisa. Mutu beton dan kepadatan tanah tetap dari alat uji
Apakah foto proyek saya dipakai melatih mesinnya
Data tiap perusahaan terpisah dan hanya terbuka untuk yang berhak. Kalau ini menentukan keputusanmu, tanyakan ke kami langsung supaya jawabannya tertulis, bukan disimpulkan dari halaman ini
Bagaimana kalau nanti layanannya berhenti
Pertanyaan yang benar, dan sebaiknya kamu tanyakan ke semua penyedia. Yang harus bisa kamu bawa keluar itu fotonya beserta keterangannya, bukan tampilan aplikasinya
Berapa biayanya
Bayar sesuai pemakaian, tanpa biaya di muka dan tanpa minimum kontrak

Cara mengujinya sendiri dalam satu sore

Jangan percaya demo, milik siapa pun. Demo memakai foto yang sudah dipilih. Yang menjawab pertanyaanmu cuma foto proyekmu sendiri, termasuk yang jelek.

Ambil dua puluh foto dari proyek yang sudah selesai, yang kamu sudah tahu jawabannya. Sepuluh yang waktu itu kamu loloskan, sepuluh yang kamu tolak. Campur urutannya, jangan diberi tahu mana yang mana, lalu bandingkan hasil penilaiannya dengan keputusanmu dulu.

Yang kamu cari bukan nilai sempurna. Yang kamu cari dua hal: apakah alasan yang dia tuliskan masuk akal buat orang tekniknya, dan apakah salahnya konsisten atau acak. Salah yang konsisten bisa diperbaiki dengan mengubah ambangnya. Salah yang acak tidak bisa diapa-apakan.

Bentuk lengkap alurnya, dari foto di lapangan sampai laporan, ada di studi kasus TALOKA, termasuk alasan kenapa tiap penilaian sengaja dibuat supaya bisa dibantah.

Sumber

  1. UU Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi, Pasal 60 dan Pasal 61
  2. UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 5
  3. UU Nomor 1 Tahun 2024, perubahan kedua UU ITE, yang tidak mengubah Pasal 5
  4. Halaman produk TALOKA

Tulisan lain

Mau menguji dugaanmu dengan foto proyekmu sendiri

Ceritakan jenis pekerjaan yang paling sering kamu persoalkan. Nanti kamu dapat jawaban jujurnya dulu, termasuk kalau jawabannya memang tidak bisa.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp