Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. Cari klien

Cari klien

Cara Menemukan Usaha yang Belum Punya Website. Metodenya Gratis, yang Mahal Waktunya.

Google Maps sudah memberi tahu siapa yang belum punya website, terang-terangan, di tiap listing. Yang berat bukan membacanya, melainkan mengulanginya dua ratus kali.

Muhammad Multazam 7 menit baca
Isi tulisan
  1. Kenapa Google Maps, bukan Instagram atau direktori usaha
  2. Cara membacanya, langkah per langkah
  3. Tidak semua yang tanpa website layak dihubungi
  4. Ongkosnya bukan uang, dan itu yang bikin orang berhenti
  5. Yang perlu kamu bawa waktu menghubungi
  6. Kalau kamu mau melompati bagian yang mengulang

Tulisan ini untuk orang yang menjual jasa pembuatan website. Kalau kamu sampai di sini karena sedang mencari orang yang bisa membuatkan website untuk usahamu, yang kamu cari ada di halaman depan, bukan di sini.

Untuk yang tinggal: bagian tersulit dari pekerjaan ini bukan membuat halamannya, melainkan menemukan siapa yang mau dibuatkan. Dan calon klien yang paling jelas bentuknya adalah usaha yang sudah jalan, sudah punya pelanggan, sudah ramai ulasan, tapi belum punya halaman sendiri. Google Maps menunjukkan mereka terang-terangan, di tiap listing, kalau kamu tahu di mana melihatnya.

Kenapa Google Maps, bukan Instagram atau direktori usaha

Karena Maps menjawab tiga pertanyaan sekaligus, dan itu tiga pertanyaan yang memang menentukan sebuah nama layak kamu hubungi atau tidak.

Usahanya benar-benar ada
Yang terdaftar di Maps punya tempat, jam buka, dan biasanya nomor telepon. Ini menyaring akun jualan yang cuma ada di media sosial dan belum tentu masih hidup.
Usahanya ramai atau tidak
Rating dan jumlah ulasan itu ukuran kasar apakah ada uang masuk. Usaha dengan ratusan ulasan punya pelanggan, dan usaha yang punya pelanggan punya alasan membayar.
Sudah punya website atau belum
Ini yang tidak disediakan direktori mana pun secara gratis. Maps menampilkannya sebagai tombol, dan tombol itu ada atau tidak ada.
230 juta

orang di Indonesia memakai internet pada akhir 2025, sekitar 80,5 persen penduduk. Pelanggan usaha-usaha itu sudah ada di sana. Usahanya yang sering belum.

Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal. Angka ini yang membuat percakapanmu masuk akal: kamu bukan menawarkan hal baru, kamu menutup jarak yang sudah ada.

Cara membacanya, langkah per langkah

  • Buka Google Maps, ketik jenis usaha dan nama kecamatannya. Bukan nama kotanya. Kalau kamu mengetik nama kota, yang naik ke atas justru jaringan besar yang sudah punya tim sendiri, dan itu bukan calon klienmu.
  • Lihat tombol di tiap listing. Yang sudah punya website menampilkan tombol Website di samping tombol Rute. Yang belum, cuma punya Rute dan Telepon. Sesederhana itu, dan itu saja penyaring utamanya.
  • Buka listing yang tanpa tombol Website. Catat namanya, nomor teleponnya, ratingnya, jumlah ulasannya, dan jam bukanya. Lima kolom itu sudah cukup untuk memutuskan dan untuk menulis chat pertama.
  • Turun sampai habis, lalu geser petanya. Hasil Maps dibatasi per wilayah yang sedang kamu lihat. Menggeser peta ke kecamatan sebelah memberi daftar baru, bukan daftar yang sama.

Satu hal yang sering salah dibaca

Sebagian usaha menaruh tautan Instagram, Linktree, atau nomor WhatsApp di kolom website. Tombolnya tetap muncul, jadi sekilas dia kelihatan sudah punya website. Klik dulu sebelum melewatinya. Yang begini justru calon klien yang paling matang: dia sudah tahu perlu punya alamat sendiri, cuma belum punya.

Tidak semua yang tanpa website layak dihubungi

Daftar mentah dari langkah tadi biasanya panjang dan sebagian besarnya buang-buang waktu. Yang di bawah ini menyaringnya jadi barisan yang benar-benar layak kamu chat.

Yang kamu lihatArtinyaDihubungi?
Ulasan di atas 50, rating di atas 4Usahanya hidup, ada uang masukYa, paling atas
Ulasan di bawah 10Baru buka, atau memang sepiNanti saja
Bagian dari jaringan atau waralabaWebsitenya diurus pusatLewati
Ditandai tutup permanenSudah tidak adaLewati
Instagram aktif, tanpa websiteSudah paham perlunya hadir onlineYa, paling mudah diajak bicara

Urutan itu penting karena waktumu terbatas. Sepuluh nama dari baris pertama dan terakhir lebih berharga daripada dua ratus nama tanpa saringan.

Ongkosnya bukan uang, dan itu yang bikin orang berhenti

Metode di atas gratis dan benar. Masalahnya cuma satu: dia tidak selesai. Satu kecamatan menghasilkan puluhan nama, satu kota punya puluhan kecamatan, dan tiap nama harus dibuka, dibaca, lalu dicatat satu per satu.

Saya tidak akan menyebut angka jam di sini, karena angka itu berbeda tiap orang dan saya tidak punya sumber yang bisa kamu buka untuk membuktikannya. Kerjakan sendiri satu kecamatan, lalu lihat jam berapa kamu selesai. Itu angkamu, dan angka itu yang menentukan metode ini sanggup kamu ulang tiap minggu atau tidak.

Yang perlu kamu bawa waktu menghubungi

Daftar nama tidak menghasilkan apa-apa kalau chat pertamanya sama dengan chat pertama semua orang. Yang paling sering dikirim bunyinya begini: perkenalan, lalu pertanyaan apakah usahanya sudah punya website. Chat itu jarang dibalas, dan alasannya masuk akal. Kamu meminta orang membayangkan sesuatu yang belum ada.

  • Sebut sesuatu yang cuma bisa kamu tahu dari listingnya. Ulasan yang menyebut satu menu tertentu, atau jam buka yang tidak biasa. Itu membedakanmu dari pesan yang disebar ke seratus nomor.
  • Bawa sesuatu yang bisa dilihat, bukan ditawarkan. Satu halaman contoh yang sudah memuat nama dan alamat usahanya mengubah percakapan sepenuhnya, karena yang dia nilai bukan lagi janji.
  • Jangan minta waktunya di kalimat pertama. Kirim tautannya. Orang yang tertarik akan bertanya sendiri, dan yang tidak tertarik tidak perlu kamu kejar.

Bagian yang mengulang itu yang bisa diserahkan ke alat

LeadMap membaca hasil Maps seperti langkah di atas, menilai tiap usaha dengan saringan yang sama, lalu menyiapkan halaman contoh berisi data usaha itu, siap kamu kirim di chat pertama. Sekali bayar Rp 175 ribu.

Lihat LeadMap

Kalau kamu mau melompati bagian yang mengulang

Metode manual di atas lengkap dan tidak ada yang saya tahan. Kamu bisa mengerjakannya sore ini tanpa membeli apa pun, dan untuk sepuluh nama pertama itu memang cara yang paling masuk akal.

Yang berubah ketika jumlahnya naik. Menemukan nama, membuka listing, mencatat lima kolom, lalu menyiapkan sesuatu untuk ditunjukkan, semuanya pekerjaan yang bentuknya sama persis tiap kali. LeadMap dibuat untuk bagian itu: dia menggulir Maps, menilai tiap usaha dengan saringan yang sama dengan tabel di atas, lalu mengeluarkan satu folder per lead yang isinya halaman jadi untuk usaha itu ditambah materi penawarannya.

Dua halaman contoh yang dihasilkannya bisa kamu buka sekarang, dan keduanya tayang di situs ini: Rawon Rampal dan CONWAY. Coffee space. Keduanya dibangun dari data Maps yang terbuka untuk umum, tanpa sekali pun menghubungi pemiliknya lebih dulu.

Mau tanya dulu sebelum beli?

Ceritakan kamu biasanya jualan ke usaha jenis apa dan di kota mana. Kalau ternyata cara kerjamu sudah jalan tanpa alat ini, itu yang akan saya bilang.

Chat WhatsApp

Satu hal yang tetap tidak bisa diserahkan ke alat mana pun: kalimat pertamamu, dan apakah halaman yang kamu tunjukkan benar-benar layak dibayar. Alat cuma memperpendek jarak ke titik itu.

Sumber

  1. DataReportal, Digital 2026: Indonesia
  2. Bantuan Google Business Profile, membuat profil usaha
  3. Bantuan Google Business Profile, menambahkan atau mengklaim profil usaha

Tulisan lain

Punya pertanyaan soal alatnya, atau soal caranya?

Metodenya gratis dan sudah lengkap di atas. Kalau yang kamu butuhkan alatnya, tanya saja.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp