Alicestech Chat WhatsApp
  1. Beranda
  2. Blog
  3. Aplikasi atau website

Keputusan belanja

Jangan Buat Aplikasi Dulu. Sebagian Besar Penggunanya Hilang dalam Tiga Hari, dan Uangmu Sudah Habis Duluan.

Aplikasi mahal bukan karena dibuatnya, tapi karena dirawatnya seumur hidup. Ini cara memutuskan tanpa menyesal, dari orang yang membuat keduanya.

Muhammad Multazam 4 menit baca
Isi tulisan
  1. Aplikasi mahal bukan karena dibuatnya, tapi karena dirawatnya
  2. Tiga pertanyaan yang menentukan jawabannya
  3. Urutan yang paling kecil risikonya
  4. Kapan aplikasi memang jawabannya
  5. Satu kalimat untuk dibawa pulang

Pesan yang paling sering masuk ke WhatsApp saya bunyinya kira-kira begini: "Mas, saya mau bikin aplikasi." Titik. Tanpa penjelasan aplikasinya untuk apa.

Saya membuat aplikasi, dan saya senang mengerjakannya. Tapi pertanyaan pertama saya selalu sama: siapa yang akan mengunduhnya, dan kenapa dia mau membukanya lagi minggu depan? Kalau jawabannya belum ada, aplikasi itu akan jadi pengeluaran terbesar dan paling sunyi yang pernah kamu buat.

77%

pengguna aplikasi berhenti memakainya dalam tiga hari setelah memasang. Pada hari ketiga puluh, angkanya sekitar 90 persen.

Tolok ukur churn aplikasi mobile, dirangkum UXCam. Ini rata-rata lintas industri; aplikasi dengan kegunaan harian jauh lebih baik.

Aplikasi mahal bukan karena dibuatnya, tapi karena dirawatnya

Biaya pembuatan yang disebut di awal biasanya cuma sebagian. Yang jarang diletakkan di atas meja adalah biaya yang datang setiap tahun setelahnya, dan tidak pernah berhenti selama aplikasinya masih dipakai:

  • Perawatan tahunan yang di banyak perkiraan industri berada di kisaran 15 sampai 25 persen dari biaya pembangunan awal.
  • Dua toko aplikasi dengan aturan berbeda, masing-masing bisa menolak pembaruanmu dan menahan rilis berhari-hari.
  • Sistem operasi yang naik versi setiap tahun dan kadang mematahkan hal yang tadinya jalan.
  • Biaya membuat orang memasang. Aplikasi harus diunduh dulu, dan itu tembok yang tidak dipunyai tautan biasa.

Website tidak punya satu pun dari daftar itu. Dibuka lewat tautan, jalan di semua ponsel, dan perubahan tayang detik itu juga tanpa menunggu siapa pun menyetujui.

Tiga pertanyaan yang menentukan jawabannya

  1. Seberapa sering orang yang sama memakainya? Kalau pemakaiannya lebih jarang dari sebulan sekali, ikonmu akan tenggelam di layar keempat dan tidak pernah ditekan lagi. Aplikasi baru masuk akal ketika ada alasan membukanya berulang kali.
  2. Apakah dia butuh sesuatu yang cuma dimiliki aplikasi? Kamera yang dipakai serius, lokasi di latar belakang, notifikasi dorong, pemindai kode, atau kemampuan bekerja penuh tanpa sinyal. Kalau tidak ada satu pun dari ini, website hampir selalu sudah cukup.
  3. Siapa yang mengunduhnya, dan siapa yang menyuruh? Ada beda besar antara aplikasi untuk pelanggan umum (harus dibujuk memasang) dan aplikasi untuk karyawanmu sendiri (dipasang karena itu alat kerja). Yang kedua jauh lebih sering berhasil.
Ditemukan orang baru yang sedang mencari
Website
Menjelaskan produk, harga, dan lokasi
Website
Menerima pesanan lewat chat
Website plus WhatsApp
Petugas lapangan mengirim bukti kerja dari lokasi tanpa sinyal
Aplikasi
Pemakaian harian oleh orang yang sama
Aplikasi
Butuh kamera, pemindai, atau sensor perangkat
Aplikasi
Alat kerja internal untuk karyawan sendiri
Aplikasi web

Urutan yang paling kecil risikonya

Untuk hampir semua usaha yang belum pernah punya produk digital, urutannya sama, dan urutan ini bukan cara menunda. Ini cara membeli informasi sebelum membeli barang mahal.

  1. Halaman dulu. Satu halaman yang menjelaskan apa yang kamu jual, harganya, lokasimu, dan satu tombol menghubungimu. Murah, cepat, dan langsung bisa ditemukan orang.
  2. Lihat siapa yang datang. Setelah beberapa bulan kamu akan tahu pertanyaan apa yang paling sering diulang, bagian mana yang paling sering dibuka, dan pekerjaan manual apa yang paling memakan waktumu.
  3. Baru bangun yang berikutnya, kalau memang terbukti perlu. Dan biasanya yang perlu bukan aplikasi untuk pelanggan, melainkan sistem untuk dirimu sendiri: pencatatan pesanan, jadwal, stok, laporan.

Yang biasanya sebenarnya dibutuhkan

Cukup sering, orang yang meminta "aplikasi" sedang menggambarkan pekerjaan manual yang memakan waktunya setiap hari: mencatat pesanan di buku, menyalin ke spreadsheet, menagih lewat chat satu per satu. Itu bukan masalah aplikasi mobile. Itu masalah sistem, dan sering selesai lewat aplikasi web yang dibuka dari peramban tanpa perlu ada di toko aplikasi.

Kapan aplikasi memang jawabannya

Supaya adil, ini contoh nyata dari pekerjaan yang saya kerjakan, tempat aplikasi memang satu-satunya jawaban yang benar.

  • Petugas lapangan yang bekerja di luar jangkauan sinyal. Di Aqora, petugas memotret bukti kerja di lapangan dan datanya menyusul terkirim ketika sinyal kembali ada. Peramban tidak bisa diandalkan untuk itu.
  • Pemeriksaan yang berjalan lewat kamera. Di TALOKA, mutu pekerjaan konstruksi dinilai dari foto lapangan, dan kameranya adalah alat ukurnya.
  • Pemakaian harian dengan satu gerakan. Di Kenmal, orang memotret piring makannya untuk tahu kandungan gizinya. Dipakai beberapa kali sehari, jadi ikon di layar utama justru meringankan.

Perhatikan polanya: ketiganya butuh perangkat kerasnya, dipakai berulang, dan penggunanya punya alasan kuat untuk memasang. Tidak satu pun dibangun karena "sekarang zamannya aplikasi". Semuanya bisa kamu buka sendiri di halaman karya.

Ceritakan masalahnya, bukan produknya

Kirim apa yang mau kamu selesaikan dan siapa yang akan memakainya. Kalau yang kamu butuhkan ternyata cuma halaman satu, saya bilang begitu, dan itu jauh lebih murah untuk kita berdua.

Chat WhatsApp

Satu kalimat untuk dibawa pulang

Aplikasi adalah jawaban untuk masalah yang berulang setiap hari di tangan orang yang sama. Website adalah jawaban untuk masalah ditemukan dan dipercaya. Sebagian besar usaha punya masalah kedua lebih dulu, dan menyelesaikannya lebih murah daripada yang mereka kira.

Sumber

  1. Tolok ukur churn dan retensi aplikasi mobile, UXCam
  2. Panduan biaya pengembangan aplikasi mobile 2026, Topflight Apps
  3. "Mobile App vs. Website: What to Choose for the Business", Cleveroad

Tulisan lain

Ceritakan dulu masalahnya, jangan langsung produknya.

Kirim apa yang mau kamu selesaikan. Kalau website sudah cukup, saya bilang begitu.

Chat WhatsApp
Chat WhatsApp